Minggu pagi itu aku sedang merajut di kursi teras. Anak perempuanku duduk di kursi seberang, sambil sesekali mencomot pisang goreng atau menyeruput milo
hangatnya.
Lagu rohani diputar
di stereo ruang tengah.
Dan Bapak? Ooo...
dia sedang sibuk di garasi, menggeluti hobby mengotak-atik mesin kijang jadulnya.
Senandungnya menyanyikan
lagu Franky Sihalitua diiringi bunyi besi beradu adalah
pertanda bahwa Bapak masih baik-baik saja di dalam sana.
Sekali-kalinya senandung dan bunyi besi beradu itu berhenti adalah saat Bapak berteriak dari dalam garasi kepadaku
Sekali-kalinya senandung dan bunyi besi beradu itu berhenti adalah saat Bapak berteriak dari dalam garasi kepadaku
“Bu, sudah jam
berapa?”
Yang kujawab sambil
melirik jam di tanganku “Belum Pak!”
Dan dia pun
bersenandung lagi, besi beradu itu pun terdengar lagi.
Hari Minggu pagiku,
setenang dan seindah biasanya.
Di rumah tetangga
depan, pintu gerbang berdenyit terbuka. Sang ayah terlihat membuka dan
menahan pintu untuk istri dan anaknya. Memastikan semua keluar
lalu menutup pintu pagar. Sang ibu menoleh ke arah rumah kami dan melambaikan tangan saat melihatku.
"Selamat Hari Minggu! Gereja jam 6 yah Bu?!", sapaku
"Iyya, yang jam 9 terlalu siang rasanya. Mari Bu, ke Gereja dulu!", balasnya
sambil merangkul suaminya, menggandeng anaknya dan berjalan bersama ke Gereja Katolik dalam kompleks
perumahan.
Lalu Bapak berteriak lagi,
"Bu, Sudah jam berapa?"
"Belum Pak!", jawabku sambil terus merajut. Gereja jam 6
ajah belum mulai, apalagi yang jam 8.
Dan tiba-tiba, Anak perempuanku bertanya dengan suara lirih,
"Kapan yah Bu kita bisa pergi ke Gereja bersama-sama seperti
mereka?".
Aku mengangkat kepalaku dan mengarahkan pandangan ke arah tatapan mata anak perempuanku. Tatapannya tengah jatuh pada tetangga depan yang sudah melangkah cukup
jauh.
Aku tersentak, pikiranku kembali pada masa saat anak perempuanku berusia
6 tahun.
Pada suatu hari, ketika kami sedang makan bersama di meja makan.
"Bapak, kenapa setiap Bapak berdoa, Bapak selalu menggerakkan tangan
membentuk salib? Sedangkan Ibu tidak?"
"Kenapa kalau pergi Gereja bersama Ibu, tangan semua orang diam
saja saat berdoa. Tapi saat gereja bersama Bapak,
tangan semua orang bergerak membentuk salib?"
"Kenapa teman kakak pergi gereja bersama semua orang tuanya, tetapi kakak hanya bisa milih, mau sama Bapak saja, atau sama Ibu
saja?"
Aku terdiam,
lima menit berlalu ketika akhirnya Bapak meraih dan meremas tangan kiriku.
"Kakak lihat tidak sendok dan garpu di piringnya kakak? Garpu
bergerigi, sendok tidak. Garpu di tangan kiri, sendok di tangan kanan...
Kakak bisa makan walau hanya pakai sendok atau hanya pakai garpu, tetapi akan jauh lebih menyenangkan kalau makannya pakai garpu dan sendok bersamaan.
Kakak bisa makan walau hanya pakai sendok atau hanya pakai garpu, tetapi akan jauh lebih menyenangkan kalau makannya pakai garpu dan sendok bersamaan.
Bapak dan Ibu
kayak garpu dan sendok itu. Berbeda, tetapi harus ada dua-duanya, biar
kakak bisa makan
dengan senang", ucap Bapak, lelaki paling bijak yang pernah
kukenal.
Anak perempuanku
pun tersenyum dan berkata,
“Kakak senang makan pakai garpu dan sendok”.
Itu adalah kali pertama sekaligus yang terakhir, dia bertanya padaku
tentang hal itu. Hingga hari ini.
Hari ini, saat dia sudah berusia 26 tahun, saat dia sudah
meraih gelar sarjana di universitas asing dan saat dia
sudah bekerja keliling Indonesia.
Kupikir, waktu dan pengalaman kehidupan sudah membuatnya terbiasa dengan
perbedaan dalam keluarga kami.
Ternyata tidak.
Lalu sekali lagi Bapak
berteriak dari dalam garasi, membangunkanku dari lamunan,
"Bu, Sudah jam berapa?"
"Belum Pak!", jawabku sambil menatap menara Gereja Katolik di kejauhan.
Anak Perempuanku melirik
jam di ponselnya dan menoleh padaku.
“Bu, sudah jam 7
loh. Gak mandi apa ke Gereja? Gerejanya Ibu jauh loh!”, ucapnya.
Bapak yang
tiba-tiba muncul dari garasi pun bertanya
“Bu, Gerejanya mulai jam 8 kan?”
Empat bola mata
menatapku heran.
“Iyya ini sudah jam
7. Iyya, ke Gereja itu memang harus mandi. Iyya, Gerejanya Ibu jauh dan mulai jam 8. Tetapi gak usah buru-buru.
Hari ini kita semua ke Gereja dalam kompleks saja, Gereja yang jam 9”, ucapku sambil meneruskan rajutanku.
Hari ini kita semua ke Gereja dalam kompleks saja, Gereja yang jam 9”, ucapku sambil meneruskan rajutanku.
Dan dua pelukan pun
merangkulku, yang satu penuh remah pisang goreng, yang satunya lagi penuh oli.
Dan aku tertawa dalam pelukan mereka.
***
***
Perbedaan adalah hal yang biasa dalam dunia ini.
Ada Muslim Syiah
ada Muslim Sunni.
Ada Penduduk
Kelurahan X ada penduduk kelurahan Y.
Ada Polisi ada
teroris.
Dalam keluargaku sendiri,
perbedaan itu adalah aku Protestan sedangkan Bapak dan anak perempuan kami Katolik.
perbedaan itu adalah aku Protestan sedangkan Bapak dan anak perempuan kami Katolik.
Perbedaan membuat
kita tidak sama antara satu dengan yang lain, tetapi tidak berarti perbedaan
itu harus dihapuskan.
Karena bukan
perbedaan yang membuat hidup kita kacau, melainkan keegoisan untuk memaksakan keseragaman.
Yang kita butuhkan adalah keinginan untuk menjembatani
perbedaan itu.
Sebuah jembatan bernama Cinta.
Terinspirasi dari curhatan seorang teman.
Mencoba membayangkan cerita ini dari mata sang Ibu.
No comments:
Post a Comment